Hi readers kali ini Kirara mau cerita secuil pengalaman kirara dan ilmu psikologi anak dan pendidikan yang didapat dari beberapa pelatihan yang diikuti dan buku-buku yang selama ini kirara baca. Artikel ini ditulis berdasarkan banyaknya keluhan orang tua klien di kantor kirara. oke mari dibaca kebawah sajaa... sebelumnya kirara berpesan tolong beri kirara masukan jika bahasannya yang kurang pas, beri kirara kritik yang membangun dan saran kepada kirara untuk lebih baik dalam menulis. Blog ini sebenarnya adalah sarana kirara belajar untuk menulis dan berpikir runtut hehehe :) ...
_________________________________________________________________________________
Pada era modern ini, para orang tua, sering merasa khawatir terhadap perkembangan gadget yang begitu pesat. Hingga komunikasi satu arah menjadi dominan terhadap perkembangan komunikasi anak di zaman sekarang. Penggunaan gawai yang berlebihan dan tanpa ada batasan yang jelas dan tidak konsisten membawa banyak dampak buruk bagi anak. Seperti diantaranya adalah gangguan pada konsentrasi anak. Penggunaan gawai yang berlebihan mampu membuat anak memiliki rentang konsentrasi yang pendek karena informasi yang ditangkap oleh mereka silih berganti begitu cepat. Selain itu,penggunaan gawai berlebihan membuat mereka menjadi mudah merasa bosan. Terbukti ketika anak merasa bahwa bermain gawai lebih menyenangkan daripada membaca buku tematik dari sekolah. Perasan bosan diakibatkan karena permainan di dalam gawai lebih banyak memiliki tantangan, terdapat audio pada permainan tersebut, visualisai gambar yang bervariasi dan menyenangkan. serta adanya level permainan.yang membuat mereka merasa ketagihan. Alasan tersebut membuat mereka ingin terus bermain. Sedangkan pada buku-buku pelajaran seperti buku tematik di sekolah hanya berisi gambar dan banyak tulisan yang keseluruhan tidak lebih menarik dari gawai.
_________________________________________________________________________________
Pada era modern ini, para orang tua, sering merasa khawatir terhadap perkembangan gadget yang begitu pesat. Hingga komunikasi satu arah menjadi dominan terhadap perkembangan komunikasi anak di zaman sekarang. Penggunaan gawai yang berlebihan dan tanpa ada batasan yang jelas dan tidak konsisten membawa banyak dampak buruk bagi anak. Seperti diantaranya adalah gangguan pada konsentrasi anak. Penggunaan gawai yang berlebihan mampu membuat anak memiliki rentang konsentrasi yang pendek karena informasi yang ditangkap oleh mereka silih berganti begitu cepat. Selain itu,penggunaan gawai berlebihan membuat mereka menjadi mudah merasa bosan. Terbukti ketika anak merasa bahwa bermain gawai lebih menyenangkan daripada membaca buku tematik dari sekolah. Perasan bosan diakibatkan karena permainan di dalam gawai lebih banyak memiliki tantangan, terdapat audio pada permainan tersebut, visualisai gambar yang bervariasi dan menyenangkan. serta adanya level permainan.yang membuat mereka merasa ketagihan. Alasan tersebut membuat mereka ingin terus bermain. Sedangkan pada buku-buku pelajaran seperti buku tematik di sekolah hanya berisi gambar dan banyak tulisan yang keseluruhan tidak lebih menarik dari gawai.
Banyak pertanyaan yang sering penulis jumpai ketika
bertemu dengan orang tua di sekolah. Para orang tua sering bertanya-tanya
seperti; bagaimanakah menghindarkan anak dari gawai dan membuat mereka fokus dalam
belajar sedangkan gawai lebih menarik dibandingkan buku-buku? Jika terlalu
banyak terpapar gawai bagaimana dengan kehidupan sosial anak? Apa yang harus
diberikan kepada anak? Apa sajakah stimulasi yang harus diberikan? Bagaimana menstimulasi
perkembangan anak dengan tepat?.
Pada buku panduan parenting nabawiyah usia anak-anak
disebut fase at thufulah yang berarti
fase ketika seorang anak berada di fase usia 0-7 tahun. Fase ini merupakan fase
yang sangat penting untuk menguatkan nilai-nilai keyakinan, menumbuhkan rasa
kasih sayang, memperhatikan permainan, menghargai proses dan hasil karya anak serta
memberikan rasa aman kepada anak. Ketika seorang anak berada di fase usia 7-10
tahun mereka berada di fase yang dinamakan fase at-tamyiz. fase at-tamyiz
adalah ketika anak mulai mengenal dan memahami sistem kerja yang ada di alam
semesta beserta makhluk hidup yang ada di dalamnya.
Menurut seorang
ahli perkembangan Jean Piaget tahap pertama dari perkembangan anak adalah
sensori motor. Anak akan membangun pemahaman mengenai dunianya melalui usaha
untuk mengkoordinasikan pengalaman yang melibatkan sensoris dengan tindakan
fisik. Anak beranjak dari tindakan reflek naluriah yang dibawa sejak lahir seperti
contohnya kemampuan naluriah untuk meminum ASI dari aerola payudara ibu. Hingga
kemampuan awal memahami simbol seperti menyebutkan “mam” ketika ingin makan,
atau “pis” ketika ingin buang air.
Menurut pendapat ahli perkembangan lain, Vygotsky
anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Dibandingkan Jean Piaget, Vygotsky
berpendapat bahwa keterlibatan anak secara aktif dalam interaksi sosial dan
budaya akan mengarahkan kemampuan kognitif anak. Sedangkan menurut ahli dalam
bidang anak berkebutuhan khusus, Montessori menyatakan bahwa pengalaman
mendapatkan stimulasi pada sensori perlu didahulukan daripada tuntutan
akademik. Permainan dengan stimulasi sensori adalah permainan yang yang
mendorong anak untuk menggunakan seluruh indranya. Manfaat yang didapat ketika
anak mampu mendapatkan stimulasi yang tepat pada seluruh aspek perkembangan
mereka adalah tercapainya tahap perkembangan yang optimal. Stimulasi kepada
anak yang akan diberikan harus mencangkup lima aspek diantaranya aspek motorik kasar,
aspek motorik halus, kognitif, sosial kemandirian, keberbahasaan.
Pemberian stimulasi dapat diwujudkan dengan permainan yang mengasyikkan. Permainan harus melibatkan semua sensori. Kegiatan yang
melibatkan semua sensori disebut kegiatan multisensori Sehingga pemrosesan
informasi yang disampaikan dengan menggunakan kegiatan multisensori dapat lebih
melekat pada kemampuan working memori anak. Umumnya masalah-masalah sensori dan
kesulitan belajar spesifik (dyslexia, dysgraphia, dyskalkulia, ADHD, Gifted ) dapat
diatasi dengan pemainan edukatif yang
melibatkan multisensori serta dilakukan secara berulang. Sebenanya permianan edukatif
yang melibatkan multisensori untuk diberikan kepada anak tidak harus menunggu adanya masalah
dalam perkembangan anak. sehingga dibutuhkannya peran orang tua dalam pemberian
stimulasi terhadap anak-anak mereka.
Anak-anak sangat menyukai permainan. Umumnya anak-anak
menggunakan gawai untuk bermain aplikasi permainan yang tersedia, atau meihat video kartun anak di youtube. Pada tahap perkembangan mereka, bermain merupakan hal yang paling mengasyikkan.
Memudarnya permainan tradisonal yang riil berdampak pada banyak hal yaitu; belum adanya aplikasi permainan pada gawai yang melibatkan seluruh aspek perkembangan anak serta mampu berkomunikasi dua arah. Sedangkan umumnya permaian tradisional melibatkan beberapa aspek stimulasi perkembangan anak. Salah satunya adalah permianan tradisional memberikan pelajaran mengenai interaksi sosial yang menunjang aspek perkembangan berbahasa pada anak. Sayangnya akses permainan-permainan tradisional yang sulit didapat membuat orang tua lebih mengutamakan permainan
yang tersedia pada aplikasi di dalam gawai mereka. Sehingga permainan di gawai orang tua anak, sering
anak mainkan dibandingakan permainan tradisional. Menurut hasil observasi penulis
dan dari pendapat anak-anak yang disampaikan kepada penulis, belajar adalah hal
yang paling membosankan sedangkan permainan adalah kegiatan yang sangat
menyenangkan. Anak-anak akan memiliki fokus dengan baik pada suatu aktivitas
ketika mereka menyukai aktivitas tersebut.
Bermain bersama anak akan meningkatkan kedekatan
orang tua dan anak. Bermain dengan permainan yang melibatkan multisensori antara orang tua dan anak akan membuat suasana rumah menjadi lebih hidup dan
menyenangkan. Ketika emosi tumbuh secara positif di dalam anggota
keluarga maka emosi positif akan melekat kepada kepribadian anak. Anak-anak
akan merasa aman, tenang nyaman dan merasa dicintai. Maka terbentuklah
komunikasi-komunikasi positif diantara anak dan orang tua. Sehingga komunikasi positif mampu meningkatkan
kedekatan orang tua dan anak.
Contoh permainan yang melibatkan sensori dan multisensory yang dapat dilakukan orang tua dan anak:
1.
Pola kontras untuk
anak bayi baru lahir (buatlah pola dari warna kontras yakni pola yang
mengandung unsur merah dan hitam dan background kontras lalu digerakkan ke kanan dank e kiri).
2.
Itik pergi ke rumah induknya untuk anak 2 tahun ke atas (Siapkan kertas karton
besar, mobil-mobilan spidol. Buatlah gambar itik di pojok kanan atas dan gambar induk di kiri bawah pada sisi kertas karton. Kemudian hubungkan antara itik dan induknya dengan membuat jalur untuk jalannya kendaraan itik. Jalur
dapat berbentu lurus, zigzag atau spiral, kemudian jalankan mobil-mobilan diatas jalur yang dibuat).
3. Celup celup untuk
anak 4 tahun keatas(siapkan bak berisi beras, spon, potongan gabus,
pasir, kemudian letakkan suatu benda suruh anak mencari benda yang anda
instruksikan kemudian suruh anak menjelaskan atau bercerita apa benda itu
mintalah anak untuk mendeskripsikan secara sederhana).
4. Finding sound untuk
anak 6 tahun ke atas (Siapkan video atau rekaman aneka suara hewan, atau
benda, kemudian suruh anak menebak, dan dituliskan di secarik kertas).
5. Clap and Say Hi untuk
7 tahun keatas (ajak seluruh anggota keluarga bermain. kemudian ajak
mereka bertepuk tangan sambil menyebutkan angka untuk bilangan 1,3,5 menepuk
tangan. Pemain lain mengucapkan urutan angka, 2,4,6 dan berkata hi lakukan
bergiliran hingga menemukan pemain yang salah).
6. Sight Word untuk
anak yang sudah mampu membaca (tempelkan kertas berisi aneka macam kosakata di tembok
yang kosong ,Siapkan pemukul lalat, kemudian instruksikan anak untuk berlari dari suatu tempat kemudian memukul
kata yang orang tua sebutkan dengan pemukul lalat).
7. Toples kejadian untuk
anak yang sudah mampu membaca (buatlah pernyataan atau pertanyaan di
potongan potongan kertas. Gulung kertas yang berisi pernyataan dan pertanyaan. kertas yang digulung berisi tentang materi melibatkan suatu emosi tertentu. bisa juga untuk gulungan kertas lain membahas tentang suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang membutuhkan pemecahan masalah sederhana seperti apa yang kamu lakukan ketika ada sampah berceceran? Kemudian anak disuruh mengambil salah satu gulungan kertas tersebut dan membacakannya di depan orang tua. Kemudian klarifikasi apakah tanggapan atau
jawaban yang melibatkan suatu emosi dan pemecahan masalah sederhana sudah sesuai atau belum. Berilah apresiasi terhadap jawaban mereka, Kemudian beriah masukan jika dibutuhkan pada tanggapan mereka jika kurang sesuai terhadap pernyataan maupun pertanyaan tersebut.
Bila
anak menolak permainan ini jangan dipaksa. Coba lagi lain waktu saat anak lebih
siap Sehingga suasana bermain tetap
menyenangkan.
Selamat
mencoba.!
Referensi
:
DissinIbin &Joele Jessica. 2018.The Danish Way Of Parenting. Yogyakarta.Bentang Pusataka.
Kholiq
Abdul. 2017. Parenting Nabawiyah. Semarang. Mutiara Quran.
Modul Pelatihan Terapi untuk Anak Dyslexia oleh pusat terapy sebaya. Malang 15-16 November 2014.
Modul Pelatihan Terapi Executive Functioning oleh pusat terapy sebaya Surabaya 1 Februari 2020.
Modul Pelatihan Terapi untuk Anak Dyslexia oleh pusat terapy sebaya. Malang 15-16 November 2014.
Modul Pelatihan Terapi Executive Functioning oleh pusat terapy sebaya Surabaya 1 Februari 2020.
Piether,
Iskandar dkk.2016.Keajaiban Tujuh Indra. Jakarta. Rumah Dandelion.
Piether,
Iskandar dkk.2018. Panduan Tumbuh Kembang Dan Stimulasi Anak 0-5 Tahun.
Santrock,
John W. 2012. Life Span Development. Jakarta. Erlangga.
Terima kasih readers sudah membaca atikel yang kirara buat. semoga artikel ini bermanfaat. Jika ada saran bisa tulis di kolom komentar, lewat email atau japri kirara. kirara sangat suka jika ada yang membuka diskusi berkaitan dengan artikel ini.
Terima kasih readers sudah membaca atikel yang kirara buat. semoga artikel ini bermanfaat. Jika ada saran bisa tulis di kolom komentar, lewat email atau japri kirara. kirara sangat suka jika ada yang membuka diskusi berkaitan dengan artikel ini.

Komentar
Posting Komentar