![]() |
| aku bersama pelatih drama dan salah satu pemeran |
![]() |
| aku bersama anak ABK sebelum tampil |
![]() |
| aku bersama dengan salah satu pemeran |
![]() |
| siswa ABK makeup sebelum pentas |
hi readers,
kali ini aku ingin membahas tentang pengalamanku bersama dengan anak ABK kalian tahu arti sekolah inklusif ? hmmm apaan tuuuh.. jadi gambaran kasarnya sih sekolah umum yang menerima siswa ABK tapi menurut pengertian kemendikbud sih begini..
“Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada sekolah inklusif setiap siswa sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya. Semua siswa dalam program pendidikan inklusif akan mendapatkan perlakuan yang sama di sekolah, yang membedakan yaitu siswa berkebutuhan khusus akan mendapatkan pendampingan dari guru pendamping khusus (GPK)."
kali ini aku ingin membahas tentang pengalamanku bersama dengan anak ABK kalian tahu arti sekolah inklusif ? hmmm apaan tuuuh.. jadi gambaran kasarnya sih sekolah umum yang menerima siswa ABK tapi menurut pengertian kemendikbud sih begini..
“Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada sekolah inklusif setiap siswa sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya. Semua siswa dalam program pendidikan inklusif akan mendapatkan perlakuan yang sama di sekolah, yang membedakan yaitu siswa berkebutuhan khusus akan mendapatkan pendampingan dari guru pendamping khusus (GPK)."
Nah
kembali sama temaku hari ini yang ingin sedikit cerita pengalaman awal
berinteraksi dengan ABK. Jadi SMPku dulu adalah sekolah inklusi di Malang. dimana hayooo ada yang tahu ?Hehe yes, SMPN 18 Malang. kalau nggak salah
sih SMPku dulu adalah sekolah percontohan sekolah inklusi di jawa Timur. Hehe
itu informasi waktu aku SMP sekitar tahun 2010 sih. Nah… karena aku bersekolah
di sekolah inklusi, sering banget tuh aku bertemu mereka.
Awalnya
sih pas jaman praMOS (pra masa orientasi Siswa) rasanya asing bertemu mereka. Suka
banget tuh dulu aku ngamatin dan timbul bermacam-macam pertanyaan dikepalaku sok nganalisis wwkwk :D.seperti Kok sifat mereka aneh banget sih, kok mereka aneh
gitu diterima di sekolah ini dan muncul tuh kok gini dan kok gitu lainnya. Kalau
sekarang sih bahasanya KEPO.
Gara
gara aku kepo dan nggak tau jawabannya aku tanya ke kakak Pendamping Mos. Kakak
pendamping MOS bilang kalau sekolah ini, sekolah Inklusi. Aneh juga sih aku ya,
aku sekolah di sekolah yang aku nggak tau latar belakangnya sekolah seperti gimana wkwk :') yah namanya juga bocah SD yang nggak pinter dan apa kata ayah ibu
mau sekolah dimana. Nah, saat udah bener-bener MOS dijelasin deh latar
belakang,visi Misi sekolah dan penjelasan detail tentang sekolah inklusi. Akhirnya aku paham
apa itu sekolah inklusi.
Proses
belajar mengajar mulai berlangsung, aku sekelas sama salah satu anak ABK. mulai
tuh, kepoku bermunculan aku mengamati teman ABKku yang duduk dibelakang
bangkuku, kadang dia suka banget tiba-tiba ketawa, dan mainin bulpen atau
pensil, atau kadang juga teriak di tengah pelajaran, tiba tiba dibawah meja dan
perilaku perilaku yang menurutku nggak sama seperti temen lainnya. Tapi tindakan yang dia lakukan untungnya nggak sampai
destruktif sih, tapi lumayan bikin
konsentrasi belajar pecah. Setelah beberapa hari dari kejadian itu, teman
ABKku pindah kelas.
Tahun
berikutnya aku menjadi kakak tingkat di sekolah ini. Jadi ya sudah pahamlah
dengan kondisi sekolahnya bagaimana wkwk :D. Siswa ABK di sekolahku pun mulai bertambah. Setahu
aku sih yang diterima di sekolahku dulu adalah siswa ADHD dan Autis. Pernah ada
satu kejadian yang menghebohkan sekolah. Di tengah pelajaran ada seorang anak
berteriak kenceng banget. sepertinya satu sekolah denger deh. Semua guru dan siswa pada Kepo dan ingin tau ada apa. Soalnya
guru-guru yang mengajar saat itu sebagian besar keluar dari ruang kelas dan mereka
mencari informasi tentang sumber suara, begitu pun siswanya ngeliatin dari jendela
kelas. sedangkan guru mata pelajaranku saat itu menghalangi anak–anak yang ingin keluar
dan cuman bilangn ”ibu aja yang keluar, kalian disini jangan ada yang keluar
selain ibu”
Setelah
kembali mendapat informasi, guru mata pelajaranku saat itu masuk kelas, temen
laki laki aku di belakang nyeletuk tapi kencang, “kenapa bu, siapa yang teriak “
terus si ibu jawab “tak kira ada apa, ternyata anak kelas bawah tanganya
di tusuk pakek bulpen sama salah satu siswa ABK garagara nggak dibolehin pinjem alat
tulis soalnya masih dipakek”.
“waduh buu horooooor”
temen temenku pada nyeletuk. Proses belajar kembali dilanjutkan
Waktu
jam istirahat tiba, karena emang dasar aku anaknya kepo banget sama ABK aku nyempetin
main di kantornya sekolah Inklusi dan tanya sama salah satu GPK. Bu lilik
namanya. Aku mencari tahu tentang kejadian tadi. Bu lilik cerita secara detail
(aku tidak akan menyebut nama ABK siapapun disini selain nama GPK karena itu privasi
ya)
“jadi ra, salah
satu siswa ABK melakukan tindakan membahayakan dan agresif, ceritanya temen sebangku siswa ABK ini dia anak reguler sedang nggambar menggunakan alat
tulis di pelajaran Matematika, nah siswa ABK ini mau pinjam alat tulis yang dipakek anak reguler itu,
tapi karena masih dipakek , siswa reguler ini bilang bentar ya masi dipakek. Siswa ABK
ini nggak sabar akhirnya dia tusuk temennya itu pakai bulpen sampai berdarah. Sekarang
temennya di UKS dan siswa siswa ABKnya sedang di time
out di bilik. Kamu pingin liat dia di time out ta kirara?” Kata bu lilik
“ boleh kah bu?”
“boleh ayo
kebelakang, tapi litanya dari jauh ya”
“ baik bu”
Saat berjalan ke
ruang bilik time out terdengar suara
anak menangis dan meminta ampun, “bu itu suara siswa ABK?”
“iya kirara,
kalau anak ABK berbuat perilaku yang salah dan membahayakan mereka di time out fungsinya biar mereka menyadari
perilaku mereka salah dan tidak boleh diulangi. Setelah di time out mereka
ditanyai apa salahnya dan berjanji tidak mengulangi baru boleh keluar” setelah
banyak pertanyaanku mulai terjawab aku kembali ke kelas.Setelah kejadian itu
aku beberapa kali ke ruang inklusi, untuk sekedar bertemu dengan guru GPK atau
memang ingin melihat ABK.
Pada
suatu hari pelatih ekskul dramaku tanya sesuatu ke aku.
“kir kamu sering
ya main ke inklusi?
“iya mbak,
kenapa?”
“ngapain?”
“penasaran sih
mbak”
“kamu nggak
takut sama mereka?”
“nggak lah mbak,
ngapain, aku malah pingin deket sama mereka, tapi aku nggak tau gimana caranya,
kasihan aku sama mereka mbak”
“ kamu mau nggak
tampil drama sama mereka?”
“WOOWW mau banget, tapi apa aku bisa mbak? gimana mereka? Ceritanya tentang apa? Teknisnya gimana?
Latihannya? Caranya?”
“nah jadi gini
kir, ada anak salah satu mahasiswa di Malang sedang penelitian di sekolah, dia
pingin ngadain penelitian dengan tema yang intinya mengadakan pentas drama anak
inklusi dan regular. Kebetulan mahasiswa ini temenku, dan dia udah izin ke sekolah,
sekarang aku disuruh membantu dia penelitian untuk melatih dan mengarahkan
pementasan drama, dia minta dicariin siswa regular yang deket sama Siswa ABK. Nah anak regulernya aku milih kamu, soalnya aku
tahu kamu tertarik sama mereka. Nanti ceritanya tentang pinochio. teknisnya
kita dubbing ya jadi ABKnya dan kamu nggak
ngomong cuman tampil. Nanti kamu , Si A si B jadi pemeran utama, yang lainnya
pembantu. Tapi semua Abk naik panggung. Kamu jadi ibu peri Si A jadi pinochio,
Si B jadi bapak. Yang lain jadi temen pinochio gitu, jadi kamu mau nggak?”
“WAAAW oke aku mau, aku menerima tawaran mbak ” kataku
“Kita latihan 3
bulan ya, nanti kita pentas di acara seminar dan workshop guru pendamping se
jawa timur di Batu”
“oke siyap mbak”
aku menjawab dengan mantap.
Selama latihan drama berlangsung,
berbagai macam kajadian nyeleneh terjadi seperti misalnya si A tidak mau
latihan, atau si B marah karena si A meminjam mainan atau si B di time out saat
latihan dan sebagainya dan aku harus sabar mengikuti ritme kemauan dan emosi
mereka saat latihan. Hingga akhirnya tiba waktu kami pentas. Sempat degdegan
dan perasaanku campur aduk, bagaimana nanti, aku malu, bisa nggak ya, sempat
terpikirkan apa para penonton itu melihat aku juga sebagai ABK, hahaaha saat
itu aku bener- bener tertawa mikirin itu sampai akhirnya aku pasrah yasudahlah.
Saat pentas berlangsung lampu sorot
begitu terang mengenai mukaku, membuat mataku kabur, aku tidak begitu jelas
melihat reaksi penonton sehingga akhirnya membuatku mengabaikan pandangan mereka
ke arahku dan aku pun tidak degdegan. Aku terus menjalankan peranku sebagai ibu peri. Akhirnya pementasan selesai
lampu sorot berubah dan aku dapat melihat para penonton. Banyak penonton yang
berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah dan ada beberapa orang terharu sambil
membasuh pipinya. Saat itu aku merasa bahagia bisa pentas drama bersama ABK
dihadapan puluhan orang yang sedang mengikuti workshop dan seminar ABK. Saat turun
dari panggung ada salah satu orang yang ingin berfoto dengan kami, dan
menanyakan apakah aku juga ABK dan aku pun tertawa. Ternyata kekhawatiranku pun
terjadi. Aku pun menanggapinya dengan santai. “Bukan bu, saya siswa regular.”
Hahahaahaha
aku tersenyum sendiri ketika mengingat pengalaman itu. Aku merasa bahagia dan
bangga padaku diri sendiri karena aku bisa melangkah keluar dari zona nyaman
saat itu. Menceritakan pengalaman ini seolah memutar kapsul waktu dan merecall memori pada kejadian 8 tahun
lalu. Pengalaman ini tidak pernah terlupakan sampai kapanpun.
Sekarang
aku sudah dewasa menuliskan pengalaman ini membuat aku ingin berbicara pada
diri sendiri. “Keputusanmu tidak salah buat menerima tawaran itu,
itu pengalaman yang tidak ternilai harganya, kamu tahu, pengalaman itu sangat
bermanfaat dengan hidupmu saat ini.” Aku sangat berterima kasih kepada Allah telah
memberikan pengalaman ini kepadaku.
Atas
petunjuk Allah aku pun memilih hidupku sekarang untuk menjadi seorang yang mendalami
ilmu psikologi, dan menerima tawaran kerja sebagai terapis ABK untuk dyslexia di suatu pusat
lembaga terapi di Malang.




😍😍😍
BalasHapus