Langsung ke konten utama

Pentas Drama bersama ABK

aku bersama pelatih drama dan salah satu pemeran 


aku  bersama anak ABK sebelum tampil

aku bersama dengan salah satu pemeran

 siswa ABK makeup sebelum pentas

hi readers, 
kali ini aku ingin membahas tentang pengalamanku bersama dengan anak ABK kalian tahu arti sekolah inklusif ? hmmm apaan tuuuh..  jadi gambaran kasarnya sih sekolah umum yang menerima siswa ABK tapi menurut pengertian kemendikbud sih begini..

Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada sekolah inklusif setiap siswa sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya. Semua siswa dalam program pendidikan inklusif akan mendapatkan perlakuan yang sama di sekolah, yang membedakan yaitu siswa berkebutuhan khusus akan mendapatkan pendampingan dari guru pendamping khusus (GPK)."

Nah kembali sama temaku hari ini yang ingin sedikit cerita pengalaman awal berinteraksi dengan ABK. Jadi SMPku dulu adalah sekolah inklusi di Malang. dimana hayooo ada yang tahu ?Hehe yes, SMPN 18 Malang. kalau nggak salah sih SMPku dulu adalah sekolah percontohan sekolah inklusi di jawa Timur. Hehe itu informasi waktu aku SMP sekitar tahun 2010 sih. Nah… karena aku bersekolah di sekolah inklusi, sering banget tuh aku bertemu mereka.
Awalnya sih pas jaman praMOS (pra masa orientasi Siswa) rasanya asing bertemu mereka. Suka banget tuh dulu aku ngamatin dan timbul bermacam-macam pertanyaan dikepalaku sok nganalisis wwkwk :D.seperti Kok sifat mereka aneh banget sih, kok mereka aneh gitu diterima di sekolah ini dan muncul tuh kok gini dan kok gitu lainnya. Kalau sekarang sih bahasanya KEPO.
Gara gara aku kepo dan nggak tau jawabannya aku tanya ke kakak Pendamping Mos. Kakak pendamping MOS bilang kalau sekolah ini, sekolah Inklusi. Aneh juga sih aku ya, aku sekolah di sekolah yang aku nggak tau latar belakangnya sekolah seperti gimana wkwk :') yah namanya juga bocah SD yang nggak pinter dan apa kata ayah ibu mau sekolah dimana. Nah, saat udah bener-bener MOS dijelasin deh latar belakang,visi Misi sekolah dan penjelasan detail tentang sekolah inklusi. Akhirnya aku paham apa itu sekolah inklusi.
Proses belajar mengajar mulai berlangsung, aku sekelas sama salah satu anak ABK. mulai tuh, kepoku bermunculan aku mengamati teman ABKku yang duduk dibelakang bangkuku, kadang dia suka banget tiba-tiba ketawa, dan mainin bulpen atau pensil, atau kadang juga teriak di tengah pelajaran, tiba tiba dibawah meja dan perilaku perilaku yang menurutku nggak sama seperti temen lainnya. Tapi tindakan yang dia lakukan untungnya nggak sampai destruktif sih,  tapi lumayan bikin konsentrasi belajar pecah. Setelah beberapa hari dari kejadian itu, teman ABKku pindah kelas.
Tahun berikutnya aku menjadi kakak tingkat di sekolah ini. Jadi ya sudah pahamlah dengan kondisi sekolahnya bagaimana wkwk :D.  Siswa ABK di sekolahku pun mulai bertambah. Setahu aku sih yang diterima di sekolahku dulu adalah siswa ADHD dan Autis. Pernah ada satu kejadian yang menghebohkan sekolah. Di tengah pelajaran ada seorang anak berteriak kenceng banget. sepertinya satu sekolah denger deh. Semua guru dan siswa pada Kepo dan ingin tau ada apa.  Soalnya guru-guru yang mengajar saat itu sebagian besar keluar dari ruang kelas dan mereka mencari informasi tentang sumber suara, begitu pun siswanya ngeliatin dari jendela kelas. sedangkan guru mata pelajaranku saat itu menghalangi anak–anak yang ingin keluar dan cuman bilangn ”ibu aja yang keluar, kalian disini jangan ada yang keluar selain ibu”
Setelah kembali mendapat informasi, guru mata pelajaranku saat itu masuk kelas, temen laki laki aku di belakang nyeletuk tapi kencang, “kenapa bu, siapa yang teriak “ terus si ibu jawab “tak kira ada apa, ternyata anak kelas bawah tanganya di tusuk pakek bulpen sama salah satu siswa ABK garagara nggak dibolehin pinjem alat tulis soalnya masih dipakek”.
“waduh buu horooooor” temen temenku pada nyeletuk. Proses belajar kembali dilanjutkan
Waktu jam istirahat tiba, karena emang dasar aku anaknya kepo banget sama ABK aku nyempetin main di kantornya sekolah Inklusi dan tanya sama salah satu GPK. Bu lilik namanya. Aku mencari tahu tentang kejadian tadi. Bu lilik cerita secara detail (aku tidak akan menyebut nama ABK siapapun disini selain nama GPK karena itu privasi ya)
“jadi ra, salah satu siswa ABK melakukan tindakan membahayakan dan agresif, ceritanya temen sebangku siswa ABK ini dia anak reguler  sedang nggambar menggunakan alat tulis di pelajaran Matematika, nah siswa ABK ini mau pinjam alat tulis yang dipakek anak reguler itu, tapi karena masih dipakek , siswa reguler ini bilang bentar ya masi dipakek. Siswa ABK ini nggak sabar akhirnya dia tusuk temennya itu pakai bulpen sampai berdarah. Sekarang temennya di UKS dan siswa siswa ABKnya sedang di time out di bilik.  Kamu pingin liat dia di time out ta kirara?” Kata bu lilik
“ boleh kah bu?”
“boleh ayo kebelakang, tapi litanya dari jauh ya”
“ baik bu”
Saat berjalan ke ruang bilik time out terdengar suara anak menangis dan meminta ampun, “bu itu suara siswa ABK?”
“iya kirara, kalau anak ABK berbuat perilaku yang salah dan membahayakan mereka di time out fungsinya biar mereka menyadari perilaku mereka salah dan tidak boleh diulangi. Setelah di time out mereka ditanyai apa salahnya dan berjanji tidak mengulangi baru boleh keluar” setelah banyak pertanyaanku mulai terjawab aku kembali ke kelas.Setelah kejadian itu aku beberapa kali ke ruang inklusi, untuk sekedar bertemu dengan guru GPK atau memang ingin melihat ABK.

Pada suatu hari pelatih ekskul dramaku tanya sesuatu ke aku.
“kir kamu sering ya main ke inklusi?
“iya mbak, kenapa?”
“ngapain?”
“penasaran sih mbak”
“kamu nggak takut sama mereka?”
“nggak lah mbak, ngapain, aku malah pingin deket sama mereka, tapi aku nggak tau gimana caranya, kasihan aku sama mereka mbak”
“ kamu mau nggak tampil drama sama mereka?”
“WOOWW mau banget, tapi apa aku bisa mbak? gimana mereka? Ceritanya tentang apa? Teknisnya gimana? Latihannya? Caranya?”
“nah jadi gini kir, ada anak salah satu mahasiswa di Malang sedang penelitian di sekolah, dia pingin ngadain penelitian dengan tema yang intinya mengadakan pentas drama anak inklusi dan regular. Kebetulan mahasiswa ini temenku, dan dia udah izin ke sekolah, sekarang aku disuruh membantu dia penelitian untuk melatih dan mengarahkan pementasan drama, dia minta dicariin siswa regular yang deket sama Siswa ABK.  Nah anak regulernya aku milih kamu, soalnya aku tahu kamu tertarik sama mereka. Nanti ceritanya tentang pinochio. teknisnya kita dubbing ya jadi ABKnya dan kamu nggak ngomong cuman tampil. Nanti kamu , Si A si B jadi pemeran utama, yang lainnya pembantu. Tapi semua Abk naik panggung. Kamu jadi ibu peri Si A jadi pinochio, Si B jadi bapak. Yang lain jadi temen pinochio gitu, jadi kamu mau nggak?”
“WAAAW oke aku mau, aku menerima tawaran mbak ” kataku
“Kita latihan 3 bulan ya, nanti kita pentas di acara seminar dan workshop guru pendamping se jawa timur di Batu”
“oke siyap mbak” aku menjawab dengan mantap.
            Selama latihan drama berlangsung, berbagai macam kajadian nyeleneh terjadi seperti misalnya si A tidak mau latihan, atau si B marah karena si A meminjam mainan atau si B di time out saat latihan dan sebagainya dan aku harus sabar mengikuti ritme kemauan dan emosi mereka saat latihan. Hingga akhirnya tiba waktu kami pentas. Sempat degdegan dan perasaanku campur aduk, bagaimana nanti, aku malu, bisa nggak ya, sempat terpikirkan apa para penonton itu melihat aku juga sebagai ABK, hahaaha saat itu aku bener- bener tertawa mikirin itu sampai akhirnya aku pasrah yasudahlah.
            Saat pentas berlangsung lampu sorot begitu terang mengenai mukaku, membuat mataku kabur, aku tidak begitu jelas melihat reaksi penonton sehingga akhirnya membuatku mengabaikan pandangan mereka ke arahku dan aku pun tidak degdegan. Aku terus menjalankan peranku sebagai ibu peri. Akhirnya pementasan selesai lampu sorot berubah dan aku dapat melihat para penonton. Banyak penonton yang berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah dan ada beberapa orang terharu sambil membasuh pipinya. Saat itu aku merasa bahagia bisa pentas drama bersama ABK dihadapan puluhan orang yang sedang mengikuti workshop dan seminar ABK. Saat turun dari panggung ada salah satu orang yang ingin berfoto dengan kami, dan menanyakan apakah aku juga ABK dan aku pun tertawa. Ternyata kekhawatiranku pun terjadi. Aku pun menanggapinya dengan santai. “Bukan bu, saya siswa regular.”

Hahahaahaha aku tersenyum sendiri ketika mengingat pengalaman itu. Aku merasa bahagia dan bangga padaku diri sendiri karena aku bisa melangkah keluar dari zona nyaman saat itu. Menceritakan pengalaman ini seolah memutar kapsul waktu dan merecall memori pada kejadian 8 tahun lalu. Pengalaman ini tidak pernah terlupakan sampai kapanpun.
Sekarang aku sudah dewasa menuliskan pengalaman ini membuat aku ingin berbicara pada diri sendiri. “Keputusanmu tidak salah buat menerima tawaran itu, itu pengalaman yang tidak ternilai harganya, kamu tahu, pengalaman itu sangat bermanfaat dengan hidupmu saat ini.”  Aku sangat berterima kasih kepada Allah telah memberikan pengalaman ini kepadaku.
Atas petunjuk Allah aku pun memilih hidupku sekarang untuk menjadi seorang yang mendalami ilmu psikologi, dan menerima tawaran kerja sebagai terapis ABK untuk dyslexia di suatu pusat lembaga terapi di Malang.  



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal ABK.

Assalamualaikum readers, Sebelumnya saya mau  share sedikit tentang apa yang saya tahu sejauh ini tentang ABK.  Pengertian ABK ABK merupakan sebuah singkatan dari Anak Berkebutuhan Khusus. Berdasarkan penjelasan para ahli saya menyimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki beberapa perbedaan dimensi fungsi dirinya secara signifikan. Anak berkebutuhan khusus memiliki hambatan secara fisik, psikologis, maupun kognitif untuk mencapai tujuan(kebutuhan) dan memaksimalkan segala potensi yang dimiliki. Anak berkebutuhan Khusus meliputi anak-anak yanng tuli, buta, gangguan bicara, gangguan emosional,retardasi mental serta gangguan konsentrasi dan belajar. Begitu juga dengan anak berbakat maupun anak yang memiliki intelegensi tinggi. Hal itu dikarenakan anak dengan kemampuan intelegensi tinggi maupun berbakat memerlukan penanganan ahli maupun tenaga profesional untuk mengasah potensi yang dimiliki. Sedangkan di dalam ranah pendidikan siswa AB...

"Miss kirara, anakku kok gini ya........?"

Hi readers kali ini Kirara mau cerita secuil pengalaman kirara dan ilmu  psikologi anak dan pendidikan yang didapat dari beberapa pelatihan yang diikuti dan buku-buku yang selama ini kirara baca. Artikel ini ditulis berdasarkan banyaknya keluhan orang tua klien di kantor kirara. oke mari  dibaca kebawah sajaa... sebelumnya kirara berpesan tolong beri kirara masukan jika bahasannya yang kurang pas, beri kirara kritik yang membangun dan saran kepada kirara untuk lebih baik dalam menulis. Blog ini sebenarnya adalah sarana kirara belajar untuk menulis dan berpikir runtut hehehe :) ... _________________________________________________________________________________ Pada era modern ini, para orang tua, sering merasa khawatir terhadap perkembangan gadget yang begitu pesat. Hingga komunikasi satu arah menjadi dominan terhadap perkembangan komunikasi anak di zaman sekarang. Penggunaan gawai yang berlebihan dan tanpa ada batasan yang jelas dan tidak konsisten membawa banyak ...

Telaah Kritis Kehadiran Psikolog Asing di Indonesia

  Era globalisasi dan modernisasi saat ini membuat perkembangan teknologi semakin cepat. Banyak hal yang berubah selama satu dekade ini. Banyak kemudahan akibat perkembangan teknologi yang dapat kita rasakan terutama karena adanya digitalisasi yang terjadi pada abad ini. Dimulai dari kemudahan akses berbagai macam informasi, memesan makanan yang bisa dilakukan secara online, serta pemesanan tiket untuk traveling yang begitu mudah. Perkembangan internet yang juga semakin pesat setiap tahun berdampak pada kemudahan akses berkomunikasi. Internet dan teknologi dapat membuat individu yang jauh menjadi terasa dekat. Hal tersebut juga memunculkan fenomena telekonseling yang terjadi di berbagai belahan dunia. Pun Indonesia tak luput dari fenomena telekonseling tersebut. Maka dengan adanya kemudahan teknologi termasuk perkembangan internet yang pesat, seseorang dapat melakukan konseling jarak jauh tanpa perlu bertatap muka secara langsung. Hal ini memungkinkan masyarakat Indonesia untuk ...